Hindari Konsumsi Babi! Ternyata Ini Hubungannya Dengan Penyakit Sistiserkosis 

sumber gambar: sehatq.com

Sistiserkosis adalah adanya infeksi jaringan parasit dalam tubuh yang diakibatkan oleh adanya kista larva dari cacing pita babi yaitu Taenia solium. Jaringan otak, susunan saraf pusat (neurocysticercosis), dan otot merupakan beberapa diantara bagian jaringan tubuh lain yang dapat diserang oleh kista larva jenis dari cacing ini. Salah satu penyebab seseorang menderita sistiserkosis ialah karena menelan telur cacing pita yang telah ditemukan pada feses pasien setelah terinfeksi cacing ini. Kemungkinan besar orang yang tinggal satu rumah dengan pasien akan tertular penyakit yang sama. Begitu juga dengan seseorang mengonsumsi daging babi yang dimasak tidak benar atau masih mentah akan berpeluang menderita penyakit ini. Mengapa bisa demikian? Hal ini karena bisa jadi babi tersebut terinfeksi akibat memakan feses yang memiliki telur cacing pita dari pasien sistiserkosis. Alhasil daging babi tersebut mengandung larva cacing pita dan dimakan tanpa ragu oleh konsumen yang kurang benar dalam memasaknya.

Kebanyakan kasus menunjukkan bahwa apabila ada cacing pita menetap di dalam tubuh seseorang tidak akan menimbulkan gejala. Bersumber dari alodokter.com, setidaknya ada 80% pasien tidak mengalami gejala apapun ketika infeksi terjadi. Keparahan dari penyakit ini mencapai puncaknya setelah 3 – 5 tahun setelah adanya infeksi. Namun ada beberapa kasus yang mencapai puncaknya setelah 30 tahun. Gejala sistiserkosis adalah menyesuaikan dengan lokasi adanya cacing pita dan jumlah kista larva tersebut. Dibawah ini dikutip dari laman sehatq.com akan diuraikan gejalanya disesuaikan dengan lokasi cacing pitanya dalam tubuh.

  1. Jantung

Terjadinya gagal jantung atau detak jantung tidak normal menjadi salah satu gejala adanya cacing pita di organ jantung.

  1. Otak

Jika ditemukan cacing pita di dalam otak, sekitar 70% pasiennya akan mengalami kejang. Perlu anda ketahui bahwa kejang juga menjadi petunjuk dari gejala tumor otak. Selain itu ada gejala lain berupa adanya stoke, pembengkakan otak, dan tekanan intrakranial (kesadaran menurun, sakit kepala, muntah, dan lain-lain).

  1. Tulang Belakang

Penderita akan merasa lemah atau mengalami perubahan ketika berjalan jika ternyata ada cacing pita di tulang belakangnya. Hal ini terjadi karena terjadinya kerusakan saraf pada bagian tulang belakang.

  1. Mata

Apabila cacing pitanya ditemukan di sekitar mata maka pasien akan mengalami penurunan daya lihatnya. Bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa pasien akan menderita kebutaan.

Pasti anda berpikir apakah adanya penyakit ini berkaitan dengan konsumsi babi dalam kehidupan sehari-hari? Ternyata memang iya. Penyebab timbulnya sistiserkosis adalah tertelannya larva dari cacing pita babi (Taenia solium). Kemudian larva tersebut akan berkembang membentuk kista di dalam beberapa organ tubuh. Tentu ini akan berbahaya bagi organ di dalam tubuh sebab ketika telur cacing ini tertelan hingga ke dalam tubuh manusia maka telur tersebut akan menetas. Akibatnya embrio dari telur yang menetas tersebut akan bergerak dari dinding usus menuju pembuluh dan aliran darah. Maka dari itu, inilah alasannya lokasi dan jumlah kista berbeda-beda setiap pasien. Akhirnya kista-kista tersebut akan menetaskan larva cacing kembali di dalam usus manusia. Selanjutnya akan tumbuh hingga menjadi cacing dewasa. Siklus inilah akhirnya lengkap dan akan terus di dalam tubuh manusia. Sebenarnya penularan cacing tidak akan hanya melewati makanan, namun bisa melalui air, sayuran dan buah yang disiram atau diberi pupuk oleh air yang mengandung kotoran manusia yang telah terinfeksi, melalui tangan penderita yang tidak cuci tangan, serta permukaan lain yang telah terkontaminasi oleh kotoran yang memiliki kandungan telur tersebut.

Proses penyembuhan yang dilakukan untuk penderita sistiserkosis adalah bergantung pada gejala, jumlah, lokasi, dan perkembangan dari adanya cacing pita itu sendiri. Penyembuhan yang dilakukan meliputi:

  1. Pembedahan

Pembedahan dilakukan untuk mengangkat kista, seperti akibat komplikasi hidrosefalus, kista lebih dari 10 cm, kista di otak (bagian yang rentan), dan lain-lain dengan metode kraniotomi atau konvensional. Salah satu operasi yang dilakukan seperti yang dikutip dari hellosehat.com ialah operasi laparoskopi.

  1. Antihelmintik

Ini merupakan obat cacing untuk membunuh sistiserkus yang hidup. Contohnya obat jenis praziquantel atau albendazole. Namun pemakaian obat ini memiliki efek samping berupa adanya peradangan disekitar kista yang telah mati.

  1. Anti Konvulsan

Obat ini sering dikenal sebagai obat anti kejang yang dikonsumsi untuk mengatasi kejang berulang pada neurosistoserkosis.

  1. Kortikosteroid

Pemberian obat ini bertugas untuk mengurangi reaksi peradangan ketika otak bengkak atau sedang melakukan pengobatan dengan antihelmintik.